Tugas Perekonomian Indonesia Mandiri Jurnal Kedua

 

Analisis Efisiensi Perdagangan Komoditas Kedelai Edamame di Kabupaten Jember

Penulis,

Didik Pudjo Musmedi
Fakultas Ekonomi Universitas Jember

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan: (a) pola administrasi institusi dan bisnis/pemasaran komoditas kedelai edamame dalam rangka meningkatkan ekspor non-migas, dan (b) struktur pasar komoditas kedelai edamame karena nilai tukar berkurang. Berdasarkan analisis diperoleh hasil sebagai berikut: (a) Biaya hanya 45,33 persen dari petani, di mana keuntungan petani sebesar 31,18 persen dari harga FOB. Mengurangi Kedelai Edamame akuisisi petani karena ketidakstabilan nilai tukar rupiah terhadap dolar, serta pengaruh perubahan iklim global menyebabkan penurunan kualitas kedelai Edamame, (b) memperoleh margin keuntungan terbesar profit margin 34,69 persen eksportir dengan dari harga FOB dan pedagang mendapatkan manfaat Rasio biaya terbesar, yaitu sebesar 10,54, dan (c) Kedelai Edamame sebagian besar diekspor, sehingga dengan penurunan nilai tukar rupiah menyebabkan harga kedelai Edamame meningkat. Harga kedelai edamame secara nominal rata-rata meningkat hampir 100 persen. Pada tahun 2007 rata-rata per kg Rp.9000, sampai dengan Rp.16.500, pada tahun 2006. Petani kedelai edamame ‘pendapatan, menggunakan rata-rata produktivitas petani pendapatan pada tahun 2006 sebesar Rp.11.070.000, – dan pada tahun 2007 pendapatan petani sebesar
Rp.18.810.000, – Untuk mengembangkan usahatani kedelai edamame dan melihat peran besar terhadap perekonomian kedelai edamame Kabupaten Jember, perlu untuk meningkatkan produktivitas kedelai Edamame dengan pinjaman, untuk mengelola pertanian yang lebih intensif dan kebutuhan untuk konseling, terutama dalam meningkatkan produktivitas kedelai edamame.

Kesimpulan dan Saran
Harga yang diterima petani relatif kecil bila dibandingkan dengan perolehan petani tahun sebelumnya. Harga perolehan petani hanya 45,33 persen, di mana keuntungan yang diperoleh petani sebesar 31,18 persen dari harga FOB. Menurunnya perolehan petani Kedelai Edamame disebabkan karena ketidakstabilan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar, juga pengaruh perubahan iklim global yang menyebabkan penurunan kualitas Kedelai Edamame.
Margin keuntungan terbesar diperoleh eksportir dengan margin keuntungan sebesar 34,69 persen dari harga FOB. Namun apabila margin keuntungan yang masing-masing pelaku tata niaga tersebut dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan, pedagang pengumpul mendapat benefit cost rasio yang paling besar, yaitu sebesar 10,54.
Hasil perhitungan didapat bahwa IMC sebesar 0,19, artinya keterpaduan pasar Kedelai Edamame cukup kuat. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan harga di tingkat konsumen akan ditransmisikan ke tingkat produsen, walaupun secara tidak proporsional. Kuatnya keterkaitan pasar tersebut, disebabkan petani Kedelai Edamame relatif lebih maju, sehingga arus informasi yang diterima petani lebih lancar.
Kedelai Edamame sebagian besar diekspor, sehingga dengan turunnya nilai tukar rupiah menyebabkan harga Kedelai Edamame tersebut naik. Secara nominal harga Kedelai Edamame secara rata-rata meningkat hampir 100 persen. Pada tahun 2007 rata-rata per-kg sebesar Rp.9000,-, naik menjadi Rp.16.500,- pada tahun 2006. Pendapatan petani Kedelai Edamame, dengan menggunakan produktivitas rerata maka pada tahun 2006 pendapatan petani sebesar Rp.11.070.000,- dan pada tahun 2007 pendapatan petani sebesar Rp.18.810.000,-.
Melihat besarnya peranan kedelai edamame terhadap perekonomian Kabupaten Jember perlu untuk ditingkatkan produktivitasnya, mengingat masih dimungkinkan untuk ditingkatkan. Untuk itu perlu ditingkatkan investasi pada komoditas tersebut, dengan pemberian kredit pada petani.

hasil dan pembahasan
Analisis Kelembagaan Pemasaran Komoditas Kedelai Edamame
Kelembagaan pemasaran komoditas Kedelai Edamame di Kabupaten Jember, telah berkembang cukup lama. Bentuk kelembagaan pemasaran Kedelai Edamame adalah kelembagaan tradisional, di mana pedagang memiliki peranan yang sangat penting. Pada kelembagaan pemasaran ini hubungan antara petani dan pedagang sangatlah erat, yang digambarkan dari pola pemasaran komoditas tersebut.
Dalam melakukan perdagangan/transaksi petani biasanya melalui pedagang pengumpul, hal ini dilakukan karena apabila mereka melakukan perdagangan langsung seringkali mengalami kesulitan. Kesulitan tersebut berupa biaya transportasi yang besar, risiko tidak dapat masuk gudang juga besar, dan risiko perolehan harga yang rendah. Untuk mengurangi risiko tersebut maka petani melakukan perdagangan melalui pedagang pengumpul. Petani dalam melakukan transaksi hanya kepada mereka yang telah lama dikenal, hal ini dikarenakan petani mendapatkan insentif/kompensasi yang berupa kemudahan penyortiran kedelai Edamame, kemudahan melakukan pinjaman mendadak, dan barang dagangan dijemput. Insentif yang diberikan
Tabel 1.
No
Keterangan
Biaya (Rp/kg)
Harga (Rp/kg)
Persentase
I
Harga di tingkat petani
16.500
45,33
Margin Keuntungan
8.079
22,20
1. Biaya pengolahan
658
1,81
2. Biaya sewa lahan
2.193
6,03
3. Biaya tenaga kerja
2.851
7,83
4. Biaya bibit
570
1,57
5. Biaya obat/pupuk
965
2,65
6. Biaya petik
1.184
3,25
Total Biaya
8.421
23,29
II
Harga beli pedagang pengumpul
16.500
45,33
Margin keuntungan
685
1,88
1. Biaya tenaga kerja
10
0,03
2. Biaya pengangkutan
50
0,14
3. Biaya gudang
5
0,02
Total biaya
65
0,19
III
Harga beli pedagang besar
17.250
47,39
Margin keuntungan
2.885
7,93
1. Biaya tenaga kerja
300
0,82
2. Biaya pengangkutan
50
0,14
3. Biaya gudang
15
0,04
Total biaya
365
1,00
IV
Harga beli gudang/eksportir
20.500
56,32
Margin keuntungan
12.626
34,69
1. Biaya tenaga kerja
1.245
3,42
2. Biaya pengangkutan
100
0,28
3. Biaya pengepakan
1.652
4,54
4. Biaya pengebalan
125
0,34
5. Biaya susut
50
0,14
6. Biaya ekspedisi
100
0,28
Total Biaya
8.421
8,99
V
Harga fob
36.398
100,00
Benefit cost rasio
Petani = 0,96
Pedagang pengumpul = 10,54
Pedangan besar = 7,90
Gudang/eksportir = 3,86
Sumber: Data Primer, 2007
Jurnal Ekonomika, Vol. 4 No. 1 Juni 2011: 1–6
oleh pedagang tersebut menyebabkan petani tidak akan melakukan transaksi terhadap komoditasnya kepada pedagang lain.
Di antara pedagang dengan eksportir juga terdapat hubungan yang erat, di mana pedagang dalam melakukan perdagangannya biasanya tidak akan beralih kepada eksportir/gudang yang lain. Walaupun suatu saat harga yang diberikan relatif lebih kecil, namun karena ikatan tersebut membuat mereka tidak akan pindah kepada yang lain. Untuk menjaga ikatan tersebut maka diciptakan dalam bentuk insentif-insentif yang diberikan kepada pedagang. Kuatnya hubungan tersebut, seolah di antara mereka sudah ada kesepakatan untuk menanggung risiko bersama sehingga di antara keduanya terjalin ikatan sosial ekonomi yang kuat.
Kelembagaan pemasaran kedelai Edamame, komoditas merupakan salah satu yang ditransaksikan. Selain komoditas ada transaksi lain yaitu transaksi kredit, hal ini terjadi karena jenis kedelai Edamame tersebut membutuhkan biaya yang cukup besar. Bentuk kredit yang diberikan berupa pinjaman modal yang digunakan untuk biaya operasional, dari pengolahan tanah sampai dengan pengopenan hasil panen. Pinjaman yang diberikan tidak terdapat aturan tertulis, namun berupa kesepakatan di antara mereka. Kesepakatan tersebut berupa hasil panen harus dijual kepadanya, dan pinjaman tersebut tidak dikenakan bunga akan tetapi berupa bagi hasil. Besarnya bagi hasil tersebut berdasarkan kesepakatan bersama, biasanya 2% dari penghasilan bersih yaitu selisih harga jual total dengan biaya total. Hal ini menunjukkan antara petani dan pemberi pinjaman sama-sama menanggung risiko. Walaupun harga yang dikenakan sedikit lebih rendah dari harga pasar, namun petani mendapatkan kemudahan dalam pemberian kredit dan risiko kegagalan panen ditanggung bersama.
Selain berupa uang, kredit yang diberikan pedagang kepada petani berupa pupuk dan bibit. Kesemua transaksi tidak didasarkan pada perjanjian tertulis, karena kalau tertulis tidak ada petani yang mau. Transaksi lainnya yang dilakukan oleh petani dan pedagang adalah transaksi asuransi, yaitu dengan memberikan jaminan harga yang lebih baik apabila petani dapat menghasilkan kualitas Kedelai Edamame seperti yang dikehendaki oleh pedagang.
Analisis Pemasaran Kedelai Edamame
Sebagian besar petani menjual komoditasnya kepada pedagang pengumpul, hal ini disebabkan dalam pemasaran Kedelai Edamame sudah terdapat suatu keterkaitan antara pedagang dengan eksportir. Sehingga apabila petani menjual langsung ke gudang/eksportir ada kemungkinan tidak diterima. Untuk menghindari kemungkinan tersebut petani menjual komoditasnya kepada pedagang pengumpul.
Margin tata niaga merupakan penjumlahan atas biaya tata niaga dan keuntungan lembaga tata niaga yang terlibat dalam transaksi. Dalam pembahasan margin tata niaga ini mulai dari tingkat produsen yaitu petani Kedelai Edamame hingga Kedelai Edamame siap di atas kapal untuk di ekspor (FOB) nampak pada Tabel 1.
Berdasarkan Tabel 1 harga yang diterima petani relatif kecil bila dibandingkan dengan perolehan petani tahun sebelumnya. Harga perolehan petani hanya 45,33 persen, di mana keuntungan yang diperoleh petani sebesar 31,18 persen dari harga FOB. Menurunnya perolehan petani Kedelai Edamame disebabkan karena ketidakstabilan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar, juga pengaruh perubahan iklim global yang menyebabkan penurunan kualitas Kedelai Edamame.
Margin keuntungan terbesar diperoleh eksportir dengan margin keuntungan sebesar 34,69 persen dari harga FOB. Namun apabila margin keuntungan yang masing-masing pelaku tata niaga tersebut dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan, pedagang pengumpul mendapat benefit cost rasio yang paling besar, yaitu sebesar 10,54.
Analisis keterpaduan pasar digunakan untuk melihat sejauh mana pembentukan harga di tingkat produsen dipengaruhi oleh perubahan harga di tingkat konsumen akhir. Selain dapat digunakan untuk mengetahui keterpaduan pasar jangka pendek, analisis ini juga dapat dipakai untuk mengetahui keterpaduan pasar jangka panjang. Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan formula dari Timmer, didapat hasil sebagai berikut:
Tabel 2. Perhitungan Index of Market Connection
Variabel
Konstanta
Pt – Pt-1
Rt – Rt-1
Rt-1
IMC
Koefisien
0,472
– 0,857
0,899
– 0,093
0,19
T
(1,57)
(-2,66)
(20,48)
(-2,49)
Hasil perhitungan didapat bahwa IMC sebesar 0,19, artinya keterpaduan pasar Kedelai Edamame cukup kuat. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan harga di tingkat konsumen akan ditransmisikan ke tingkat produsen, walaupun secara tidak proporsional. Kuatnya keterkaitan pasar tersebut, disebabkan petani Kedelai Edamame relatif lebih maju, sehingga arus informasi yang diterima petani lebih lancar. Selain itu, kuatnya keterkaitan pasar pada Kedelai Edamame karena ditunjang oleh infrastruktur yang memadai, sehingga akses petani terhadap pasar lebih baik. Dalam jangka panjang di mana d2 = 0,90, hal ini menunjukkan bahwa dalam jangka panjang keterpaduan pasar komoditas ini tinggi. Artinya apabila terjadi perubahan harga di pasar sentral akan ditransmisikan secara penuh ke pasar lokal dalam jangka panjang.
Analisis Tingkat Kesejahteraan Petani Kedelai Edamame
Seperti yang telah diketahui bahwa kedelai Edamame sebagian besar untuk di ekspor. Untuk mengetahui keuntungan petani Kedelai Edamame akibat penurunan nilai tukar, dengan melakukan analisis permintaan dari komoditas tersebut untuk mengetahui elastisitasnya.
Permintaan komoditas kedelai Edamame yang diturunkan dari utilitas konsumen yang merupakan hubungan fungsional antara tingkat permintaan konsumen
Musmedi: Analisis efisiensi perdagangan komoditas kedelai edamame
dengan faktor-faktor yang memengaruhi permintaan tersebut. Dalam fungsi permintaan Kedelai Edamame faktor harga merupakan faktor penting yang perlu dianalisis, untuk mengetahui elastisitas harga dari permintaan Kedelai Edamame tersebut.
Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan Shazam Version 6.2, didapat fungsi permintaan Kedelai Edamame sebagai berikut:
ln Qdt = 16,67 – 0,52 ln P1t – 0,07 ln P2t-1 + 0,26 ln Et

t-hitung 21,34 (-2,84) (-3,52) 0,97
P-Value 0,0047 0,0007 0,16
R2 = 0,68 F = 7,29 D.W. = 2,95
Keterangan:
Qdt = jumlah permintaan Kedelai Edamame tahun ke t, (kg),
P1t = harga Kedelai Edamame tahun ke t, (Rupiah/kg),
P2t-1 = harga Kedelai lokal tahun ke t-1, (Rupiah/kg),
Et = nilai tukar Rupiah/US$ tahun ke t, (Rupiah/kg).
Untuk melakukan uji apakah model tersebut memenuhi syarat secara statistik dengan menggunakan uji F, didapat model tersebut dinilai cukup digunakan sebagai penduga permintaan Kedelai Edamame. Berdasarkan nilai F dari tabel F pada tingkat signifikansi 1% adalah F(4,15) = 4,89, karena nilai F statistik lebih besar dibanding nilai F tabel, maka Ho ditolak.
Untuk mengetahui ada tidaknya outokorelasi, dengan menggunakan uji h-statistic. Penggunaan uji ini disebabkan dalam model terdapat variabel lag (lagged values), sehingga penggunaan Durbin-Watson tidak dapat digunakan (Sumodiningrat, 1996). Pengujian distribusi h mengikuti pola standardized normal distribution, dengan menggunakan D.W. maka didapat statistik-h sebesar -25,39, karena statistik-h lebih kecil dari 1,645 (tingkat signifikan/nyata 5%) maka tidak terdapat outokorelasi tipe pertama, (Supranto, 1984).
Dengan menggunakan fungsi permintaan tersebut, elastisitas harga Kedelai Edamame terhadap jumlah permintaannya sebesar – 0,52, atau bersifat inelastis. Artinya apabila harga Kedelai Edamame tersebut naik 100 persen maka jumlah permintaan turun 52 persen.
Kedelai Edamame sebagian besar diekspor, sehingga dengan turunnya nilai tukar rupiah menyebabkan harga Kedelai Edamame tersebut naik. Secara nominal harga Kedelai Edamame secara rata-rata meningkat hampir 100 persen. Pada tahun 2007 rata-rata per-kg sebesar Rp.9000,-, naik menjadi Rp.16.500,- pada tahun 2006. Pendapatan petani Kedelai Edamame, dengan menggunakan produktivitas rerata maka pada tahun 2006 pendapatan petani sebesar Rp.11.070.000,- dan pada tahun 2007 pendapatan petani sebesar Rp.18.810.000,-. Sedangkan biaya produksi juga mengalami peningkatan, pada tahun 2006 sebesar Rp.6.428.500,- menjadi Rp.9.571.400,- tahun 2007. Dengan demikian pendapatan bersih (selisih pendapatan dan biaya produksi), pada tahun 2006 sebesar Rp.4.641.500,- meningkat menjadi Rp.9.238.600,- pada tahun 2007. Namun bukan berarti kenaikan tersebut akan meningkatkan pendapatan petani secara riil, bila diboboti dengan indeks harga konsumen pada periode yang sama. Pada tahun 2006 indeks harga sebesar 176,48 persen, dan tahun 2007 sebesar 207,10 persen, sehingga pendapatan riil petani Kedelai Edamame meningkat sebesar 69,62 persen.

Daftar referensi
1. Anwar, A., 1996a, Kajian Kelembagaan untuk Menunjang Pengembangan Agribisnis, Makalah, Disampaikan sebagai bahan untuk kerja sama dengan biro Perencanaan Departemen Pertanian, Jakarta (tidak diplubikasikan).
2. ……………, 1996a, Teori Agency (Agency Theory), Bahan Kuliah Ekonomi Kelembagaan PPS-IPB, Bogor.
Jurnal Ekonomika, Vol. 4 No. 1 Juni 2011: 1–6
3. ………….., 1997, Beberapa Konsepsi Alokasi Sumber Daya Alam untuk Penentuan Kebijaksanaan Ekonomi ke arah Pembangunan yang Berkelanjutan, Bahan Kuliah Ekonomi Sumber Daya Alam PPS-IPB, Bogor.
4. …………., 1998, Kajian Analisis Penawaran (Supply) dan Permintaan (Demand) Kayu di Wilayah DKI Jaya dan Jawa Barat, Kerja sama antara: Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Departemen Kehutanan dengan PPS-IPB, Bogor.
5. Azzaino, Z., 1981, Pengantar Tata Niaga Pertanian, Departemen Ilmu-ilmu Sosial Fakultas Pertanian IPB, Bogor.
6. Bardhan, P., 1989, The Economic Theory of Agrarian Institutions, Clarendon Press, Oxford.
7. Geo, L., 1988, Analisis Dampak Ekonomi Perkebunan Kakao dalam Pembangunan Wilayah Kabupaten Kolaka Propinsi Sulawesi Tenggara, Tesis Program Pascasarjana IPB, Bogor.
8. North, DC., 1991, Institutions, Institutional Change and Economic Performance, Cambridge University Press, Cambridge.
9. Pakpahan, A., 1989, Kerangka Analitik untuk Penelitian Rekayasa Sosial; Perspektif Ekonomi Institusi, dalam Prosiding Patanas: Evolusi Kelembagaan Pedesaan di Tengah Perkembangan Teknologi Pertanian, Pusat Penelitian Agroekonomi, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Bogor.
10. Saefudin, AM., 1981, Metode Analisis Pemasaran Komoditi, Majalah Pertanian 1981/1982, Volume 3, Jakarta.
11. Timmer, PC., 1987, Corn Marketing, in Timmer, 1987, The Corn Economy of Indonesia, Cornell University Press, London.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s